Kerja Keras adalah Energi kita semua baik aku, kamu, dan dia. Yach, dengan semangat kerja keras itulah yang membedakan kita (kaum anak muda) dengan para orang-orang yang sudah tua. Para orang-orang tua memiliki suatu kelebihan yaitu berupa pengalaman yang banyak, akan tetapi mereka tidak lagi memiliki semangat kerja keras. Apabila kita (kaum muda) tidak juga memiliki semangat kerja keras, pengalaman pun juga minim, lalu apa yang dapat kita perbuat? Apa yang dapat kita kembangkan? Padahal nasib bangsa ini ke depan terletak di tangan kreativitas kita para anak muda. Ya kan…?!Kerja Keras PERTAMINA dalam hal Konversi Energi
Saat ini Pemerintah Indonesia, bekerjasama dengan PERTAMINA sedang aktif melakukan gerakan Konversi Energi dari Minyak (Minyak tanah) ke Gas (Elpiji). Menurut saya, program pemerintah untuk mengkonversi minyak tanah ke kompor gas adalah baik. Dengan program ini sebenarnya pemerintah ingin meningkatkan derajat hidup masyarakat terutama masyarakat bawah. Karena bagaimanapun secara global penggunaan kayu bakar ataupun energi likuid seperti minyak tanah, yang kurang ramah lingkungan dan tidak praktis, sudah ditinggalkan. Hanya beberapa negara di Afrika dan India yang masyarakatnya masih menggunakan kayu ataupun minyak tanah sebagai bahan bakar.
Dengan slogan Kerja Keras adalah Energi kita, PERTAMINA melalui program Konversi Energi ini akan membagikan paket peralatan program konversi minyak tanah ke elpiji secara gratis ke 1,63 juta kepala keluarga (KK) di Indonesia. Kompor gas gratis tersebut adalah program pemerintah untuk mengonversi penggunaan minyak tanah ke gas. Konversi energi dilakukan karena sumber daya alam minyak bumi makin menipis, sementara gas melimpah. Dibantu dengan 11 perusahaan sebagai pemasok kompor elpiji satu tungku sebanyak 4.576.650 unit, pemerintah dan PERTAMINA bertekad mengurangi subsidi minyak tanah yang setiap tahunnya mencapai Rp.35-40 triliun.
Harapan Saya ke Depan
Pertamina tidak bisa bekerja sendiri untuk mensukseskan program konversi minyak tanah ini. Musti ada juga pihak ketiga yang membantu yakni LSM. Kenapa? Karena BPH Migas kurang berperan dalam program konversi minyak tanah ini. Sebagai badan yang mengawasi, tentunya BPH Migas harus meningkatkan pengawasannya, jangan sampai minyak tanah yang sudah dirasa kurang oleh masyarakat disalahgunakan pula untuk kepentingan industri.
Perencanaan dan koordinasi dalam implementasi Program Konversi Minyak ke Gas inipun kurang benar, sehingga minyak tanah terburu-buru ditarik. Semestinya di adakan masa transisi, yaitu minyak tanah tetap ada, tetapi juga disediakan gas. Perlu ada iklan layanan di media massa tentang pemakaian kompor gas. Saat ini, kelangkaan minyak tanah akibat mulai ditariknya pasokan ke agen-agen minyak tanah mulai dirasa meluas. Tidak hanya di Jakarta Pusat, tetapi juga di daerah Koja Jakarta Utara, dan Kampung Melayu Besar, Jakarta Timur, dimana masyarakat harus antri dua hingga empat hari untuk mendapatkan jatah minyak tanah. PERTAMINA juga harus menggandeng lembaga swadaya masyarakat untuk memasyarakatkan akan perlunya memakai gas. Jangan sampai ada kasus kompor atau tabung gas meledak, yang nantinya justru membuat masyarakat semakin ketakutan menggunakan kompor gas.
Ayo PERTAMINA…!!
Tetap istiqomah ya dengan slogan “Kerja Keras adalah Energi Kita”….?!
Dengan slogan Kerja Keras adalah Energi kita, PERTAMINA melalui program Konversi Energi ini akan membagikan paket peralatan program konversi minyak tanah ke elpiji secara gratis ke 1,63 juta kepala keluarga (KK) di Indonesia. Kompor gas gratis tersebut adalah program pemerintah untuk mengonversi penggunaan minyak tanah ke gas. Konversi energi dilakukan karena sumber daya alam minyak bumi makin menipis, sementara gas melimpah. Dibantu dengan 11 perusahaan sebagai pemasok kompor elpiji satu tungku sebanyak 4.576.650 unit, pemerintah dan PERTAMINA bertekad mengurangi subsidi minyak tanah yang setiap tahunnya mencapai Rp.35-40 triliun.
Harapan Saya ke Depan
Pertamina tidak bisa bekerja sendiri untuk mensukseskan program konversi minyak tanah ini. Musti ada juga pihak ketiga yang membantu yakni LSM. Kenapa? Karena BPH Migas kurang berperan dalam program konversi minyak tanah ini. Sebagai badan yang mengawasi, tentunya BPH Migas harus meningkatkan pengawasannya, jangan sampai minyak tanah yang sudah dirasa kurang oleh masyarakat disalahgunakan pula untuk kepentingan industri.
Perencanaan dan koordinasi dalam implementasi Program Konversi Minyak ke Gas inipun kurang benar, sehingga minyak tanah terburu-buru ditarik. Semestinya di adakan masa transisi, yaitu minyak tanah tetap ada, tetapi juga disediakan gas. Perlu ada iklan layanan di media massa tentang pemakaian kompor gas. Saat ini, kelangkaan minyak tanah akibat mulai ditariknya pasokan ke agen-agen minyak tanah mulai dirasa meluas. Tidak hanya di Jakarta Pusat, tetapi juga di daerah Koja Jakarta Utara, dan Kampung Melayu Besar, Jakarta Timur, dimana masyarakat harus antri dua hingga empat hari untuk mendapatkan jatah minyak tanah. PERTAMINA juga harus menggandeng lembaga swadaya masyarakat untuk memasyarakatkan akan perlunya memakai gas. Jangan sampai ada kasus kompor atau tabung gas meledak, yang nantinya justru membuat masyarakat semakin ketakutan menggunakan kompor gas.
Ayo PERTAMINA…!!
Tetap istiqomah ya dengan slogan “Kerja Keras adalah Energi Kita”….?!






